Kamis, Agustus 14, 2003

Industri Teh Indonesia di ambang Kebangkrutan

Oleh:
Setia Lesmana

[Tulisan lama dibuat 14 Agutus, 2003]
HIJAU dan asrinya hamparan kebun teh yang menyemburatkan udara sejuk dan sesekali ditimpali udara sekeliling yang berkabut, tak lama lagi mungkin akan hilang. Sebuah kekhawatiran yang sangat beralasan melihat bisnis teh di Indonesia yang kian terpuruk ke titik terendah.
Jika tidak ada langkah nyata dan strategis dalam penyelamatan bisnis teh di Indonesia tidak kunjung sehat, bencana lumayan dahsyat dipastikan bakal menghampiri industri teh dalam negeri. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang yang selama ini hidup dari teh pun akan kehilangan mata pencahariannya. Meruginya bisnis teh, membuat perkebunan the rakyat berubah menjadi kebun sayur mayur ataupun kawasan permukiman.
Tatkala hamparan kebun teh berganti dengan kebun sayuran, maka siap-siaplah menerima berbagai bencana alam, baik tanah longsor maupun banjir. Oleh karena itu, kita semua patut sedih, risau, sekaligus peduli dengan usaha per-teh-an kita yang tengah di ujung tanduk.
Di sisi lain setiap tahun puluhan ton produk teh jadi asal luar negeri (Cina, Vietnam, AS, dan Inggris), ”membanjiri” pasaran teh Indonesia sejak empat tahun terakhir. Kondisi tersebut disebabkan produsen teh lokal kurang mampu bersaing akibat diberlakukannya PPN secara berlapis-lapis oleh pemerintah. Demikian dikatakan mantan Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia (ATI), Rachmat Badruddin dalam sebuah kesempatan berbincang-bincang dengan Pembaruan.
”Teh jadi tersebut sudah dalam bentuk kemasan siap konsumsi, misalnya teh celup dll. Bahkan, keberadaannya sudah lebih banyak disuguhkan di berbagai hotel berbintang di pelosok Indonesia,” ujarnya.
Akibat kondisi itu, kata Rachmat Badruddin, banyak pula industri teh lokal menjadi tersendat-sendat usahanya. Secara bertahap, usaha teh Indonesia yang hanya menjadi produsen sampai setengah jadi, akan menjadi penonton di negeri sendiri karena industri teh jadi dikuasai produk luar negeri.
Kondisi demikian, menurutnya, disebabkan besarnya beban produksi teh jadi asal Indonesia menjadi lebih besar. PPN dikenakan mulai dari tingkat petani, pedagang/pengumpul, perkebunan, sampai pabrik hasil jadi. ”Padahal, di Srilanka, India, Kenya, dan negara produsen teh mentah dan setengah jadi lainnya, pemerintah mereka hanya mengenakan PPN bagi pabrik pengolah jadi. Ini juga diharapkan diikuti pemerintah Indonesia, PPN bagi tingkat petani, pedagang/pengumpul, perkebunan, sampai pengolah setengah jadi batal dikenakan PPN. Sebaiknya, PPN hanya dikenakan kepada produsen jadi,” ujarnya.
Dari tahun ke tahun sebenarnya produksi teh Indonesia relatif meningkat. Akan tetapi, hal yang sama juga terjadi pada negara produsen teh lain yang merupakan saingan Indonesia.
Pada tahun 1993, produksi teh Indonesia tercatat 136.587 ton. Kemudian sempat turun pada tahun 1994 menjadi 128.289 ton, kemudian naik kembali pada tahun 1995 menjadi 143.675 ton. Pada tahun 1998, ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar sedang sangat jatuh, di atas Rp 10.000 per satu dollar AS, produksi teh pun meningkat menjadi 166.825 ton. Akan tetapi, kemudian turun menjadi 161.003 ton pada tahun 1999 dan menjadi 157.371 pada tahun 2000. Pada tahun 2001 produksi teh Indonesia naik lagi menjadi 161.202 ton, sedangkan tahun 2002 tercatat sekitar 157.000 ton.
Produksi teh Indonesia di atas masih kalah jauh dibandingkan dengan India. Pada tahun 1993 saja India sudah memproduksi 760.826 ton dan dalam lima tahun terakhir angkanya selalu di atas 800.000 ton. Pada tahun 2001, misalnya, tercatat 853.710 ton, sedangkan di tahun 2002 tercatat 826.165 ton.
Produsen kedua terbesar teh adalah Cina yang pada tahun 1993 saja sudah memproduksi teh sebanyak 599.941 ton dan dalam dua tahun terakhir (2001 dan 2002) produksinya sudah di atas 700.000 ton. Kemudian disusul Sri Lanka yang memproduksi 233.276 ton teh pada tahun 1993 dan pada tahun 2002 lalu sudah menjadi 310.032 ton.
Kenya di Afrika yang pada tahun 2001 lalu memproduksi 294.631 ton dan tahun 2002 sebanyak 287.044 ton, juga merupakan pesaing yang sulit dikalahkan Indonesia. Padahal, pada tahun 1970 produksi teh olahan negara itu sedikit di bawah Indonesia, yaitu 41.077 ton produksi Kenya sedangkan Indonesia 44.048 ton.
Untuk keseluruhan produksi dunia yang mencapai 3.021.632 ton pada tahun 2002, produksi teh Indonesia terbilang relatif kecil, hanya sekitar lima persen. Akan tetapi, di sisi ekspor, teh Indonesia yang kemudian diekspor kuantitasnya besar, yaitu sekitar 100.000 ton dari 1.391.900 ton jumlah teh ekspor yang beredar dari berbagai negara. Ekspor teh Indonesia itu pada tahun 2001 menduduki peringkat kelima setelah Sri Lanka (288.000 ton), Kenya (258.000 ton), RRC (250.000 ton), dan India (180.000 ton).
Meski demikian, pasar ekspor teh Indonesia itu akan semakin tergerogoti lagi dengan gencarnya Vietnam masuk ke pasar teh dunia. Pada tahun 1995 Vietnam menghasilkan 40 ton dan naik di tahun 2001 menjadi 82 ton. Diperkirakan Vietnam dengan laju pertumbuhan yang fenomenal, sekitar 12 persen, produksinya akan cepat melampaui 100.000 ton sehingga akan juga membanjiri pasar teh dunia.
Sementara itu, pasar dalam negeri yang diharapkan sebagai penyelamat kondisinya juga tidak kunjung membaik, malah mulai digerogoti oleh teh olahan impor. Tingkat konsumsi teh penduduk Indonesia masih sangat rendah, sekitar 250-300 gram teh per kapita per tahun, jauh sekali dibandingkan dengan tingkat konsumsi teh warga India yang di atas satu kilogram per kapita per tahun. Belum lagi persoalan-persoalan kenaikan BBM, tarif dasar listrik, kenaikan upah minimum, perpajakan, serta soal penjarahan lahan yang membuat produksi teh cukup terganggu.
Menurut ketua ATI yang baru, Insyaf Malik, melihat bahwa masalah pokok teh Indonesia adalah pemasaran. Secara internasional harga teh asal dihargai lebih rendah dibanding negara lain. Sebagai contoh bila dibandingkan dengan harga teh Kenya selisihnya cukup jauh. Harga teh Kenya sekarang ini di pasaran dunia sekitar 140 sen dollar AS per kg, sedangkan teh Indonesia terus turun antara 90-100 sen dollar AS.
Rendahnya harga jual teh Indonesia yang 60 persen dari seluruh produksinya yang diekspor itu berdampak banyak. Di tingkat paling hulu, terutama perkebunan teh rakyat, usaha perkebunan teh dinilai sudah tidak masuk akal lagi karena pendapatan petani teh sangat minim per bulannya.
Dengan rentang harga antara 90 sen sampai 100 sen dollar AS per kg teh kering (sekitar Rp 7.500-8.350), harga jual pucuk teh basah di tingkat petani sulit ditingkatkan menjadi di atas Rp 1.000 per kg-nya. Sekarang ini kisaran harga pucuk teh basah antara Rp 500-750 per kg. Dengan begitu, pendapatan petani teh sekarang ini per bulannya di bawah Rp 100.000 per hektar kebun teh yang dimilikinya.
Dampak lebih jauhnya adalah semakin tidak terurusnya kebun-kebun teh milik rakyat sehingga produktivitasnya pun semakin turun. Oleh karena itu semua pihak yang terkait dengan industri teh nasional seharusnya bahu membahu menyelamatkan industri yang sudah ratusan tahun ada di Indonesia ini. Jika tidak, hamparan kebun teh yang indah dan menyegarkan itu tinggal menjadi kenangan.

Tidak ada komentar: