Kamis, Desember 15, 2005

Tajur, Wisata Alternatif Bagi Kaum Hawa

Oleh:
Setia Lesmana

Bagi penggemar tas, kawasan Tajur di Bogor, Jawa Barat, bisa menjadi salah satu tempat untuk berburu aneka tas dengan beragam bentuk, warna, serta model yang tak pernah ketinggalan. Uniknya, meski buatan para perajin lokal, produksi Tas Tajur sudah terkenal hingga mancanegara. Tak heran, pada akhir pekan biasanya pusat penjualan tas ini juga kerap dikunjungi pembeli dari berbagai daerah, khususnya Ibu Kota. Apalagi, dari Jakarta hanya membutuhkan waktu 1,5 jam untuk sampai di tempat ini. Tak ayal, kawasan ini pun berkembang menjadi kawasan wisata belanja yang cukup menarik, terutama bagi kaum hawa.

Cing Yin (23), seorang mahasiswi asal Bogor yang kuliah di Melbourne, Australia mengaku punya kebiasaan unik setiap kali berkesempatan pulang ke Indonesia. Wanita berpostur tinggi langsing itu suka memborong aneka jenis tas di sentra Tas Tajur, Bogor untuk dijadikan oleh-oleh bagi teman-temannya di negeri Kangguru.
Cing Yin mengaku, awalnya teman-teman kuliahnya tertarik dengan model dan warna tas yang digunakannya. Selanjutnya, wanita yang mendalami bidang bioteknologi itupun ketiban pulung karena teman-teman kuliahnya nitip minta dibawakan tas setiap kali pulang ke Bogor. Terkadang, Ia pun harus memborong banyak tas karena permintaannya cukup banyak.
Tidak hanya Cing Yin dan kawan-kawan, bagi kaum perempuan tas bisa dibilang sebagai penunjang penampilan. Seiring perkembangan mode, model tas pun dibuat beragam sesuai dengan kebutuhan si pemakai. Untuk mendapatkan tas trendy dan berkualitas, biasanya orang memilih berbelanja di pusat perbelanjaan besar. Padahal, harga tas di tempat tersebut selangit.
Akibatnya hobi yang satu ini umumnya banyak menguras dompet kaum hawa. Al hasil keberadaan outlet dari industri tas yang menjual produk berkualitas namun dengan harga murah menjadi favorit penggemar tas. Mereka pun bisa asyik berwisata di kawasan Wisata Belanja Tas Tajur, tanpa khawatir dompetnya terkuras habis. Sementara bagi yang jeli seperti halnya Cing Yin, keberadaan tas tajur memberinya peluang lain yang cukup menarik.
Sebutan kawasan wisata belanja bagi sentra penjualan tas di Tajur, Bogor Jawa Barat agaknya tidaklah berlebihan. Nyaris setiap hari kawasan ini selalu ramai dikunjungi pembeli yang kebanyakan kaum hawa yang ingin tampil trendi. Kawasan inipun seringkali menjadi macet karena banyak mobil yang tidak kebagian parkir sehingga memenuhi bahu jalan.
Itu tak lain karena aneka jenis tas tersedia di pusat penjualan yang didirikan berawal dari sebuah industri rumahan ini. Mulai dari tas anak-anak, tas kantor, sampai travel bag berukuran jumbo. Harga yang ditawarkan juga cukup variatif. Mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu per buah. Tergantung dari bentuk dan desain tas itu sendiri.
Bagi para wanita penggemar tas, di tempat inilah mereka bisa dengan leluasa mencari aneka bentuk, warna, serta model yang tak pernah ketinggalan dan tentu saja harga yang terjangkau. Mereka berasal tidak hanya dari kawasan Jabotabek namun juga dari kota-kota lain seperti Bandung dan kota-kota besar lainnya. Pengunjung dari luar Jabotabek, biasanya menyempatkan mampir ke Tajur usai menyelesaikan keperluannya di Ibukota Jakarta.
Seperti halnya, Yuniar, pengusaha perempuan asal Balikpapan yang ditemui Pembaruan di salah satu outlet tas tajur. Ia mampir ke sentra penjualan tas tajur untuk memborong sejumlah tas sebagai oleh-oleh bagi anak dan kemenakannya di Balikpapan.
Lain lagi dengan Ipung, pemuda asal Cicurug Sukabumi yang bermaksud membeli tas travel karena Ia akan berangkat sebagai TKI di Arab Saudi. Hanya dengan merogoh kocek antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, tas travel berukuran cukup besar bisa didapatkan disini. Padahal di tempat lain, harganya paling murah mencapai Rp 500 ribu, ujar Ipung.
Banyaknya pengunjung tentu saja menjadi berkah tersendiri bagi pengrajin dan pengusaha tas tajur. Misalnya saja Bagus M. Fathoni, pemilik Toko Sumber Tas. Dia mengaku memulai usaha di kawasan itu sejak tahun 2000. Bagus menyadari konsumennya tak hanya dari kalangan atas. Untuk itu, dia tidak hanya menyediakan tas impor, namun disediakan juga tas buatan lokal.
"Impor mungkin cuma 25 persen, sisanya 75 persen lokal," kata Bagus. Tahun demi tahun, usaha yang dijalani Bagus terus berkembang. Bagus mengaku tokonya selalu ramai oleh pengunjung. Terlebih lagi pada Sabtu, Ahad, dan hari libur, pengunjung yang datang bisa mencapai 1.000 orang, kata Bagus.
Lain lagi dengan Silvia Monica, pemilik Toko Central Tas. Ia mengatakan, 60 persen barang yang dijual di gerainya adalah tas impor. Sedangkan sisanya buatan lokal. Silvia mengaku dalam sebulan dapat menjual 1.000 unit tas.
Hampir semua pemilik took tas tajur mengaku sangat menjaga kualitas barang yang dijualnya. Persaingan yang makin ketat membuat mereka berusaha memanjakan konsumen yang berkunjung ke gerainya.
"Di samping karena diskon yang diberikan, tas disini kualitasnya cukup bagus," ujar Yuniar. Selain itu, ungkap Yuniar, took-toko di Tajur tak hanya menyediakan tas impor. Tas buatan Indonesia juga menurut dia sudah bisa mengikuti mode. Sementara pelanggan lainnya, Diana mengaku tas yang disediakan di gerai-gerai tersebut tak kalah jauh dengan pusat perbelanjaan besar lainnya.
Harga memang menjadi faktor utama tas asal Tajur menjadi fenomenal. Di tempat ini, para pengunjung sudah bisa mendapatkan sebuah tas keren dengan rentang harga Rp 35-100 ribu. Namun, calon pembeli harus jeli. Sebab, kadang tas lokal banyak yang belum dapat menyaingi produk impor. Ini dikarenakan bahan baku yang digunakan oleh sebagian pengrajin kurang bagus dan pengerjaannya kurang halus.

Tidak ada komentar: